Saturday, June 4, 2016

Cipanas Art Fest 2016

Cipanas Art Fest
Penampilan salah satu komunitas seni pada acara Cipanas Art Fest 2016



Sabtu 4 Juni 2016, di Bukit Tengkorak yang merupakan salah satu perbukitan kawasan Cipanas, Kami berkumpul. Berbaur dalam alunan musik, dan terpaan angin. Syair serta chord gitar yang kami ciptakan saat itu menyerukan satu pesan. Pesan tentang rasa kasih, cinta dan sayang kami pada lingkungan kami, alam kami, rumah kami.

Bukit Tengkorak, entah kenapa bukit yang masih berada satu kawasan dengan Situs Gunung Kasur , Cipanas tersebut diberi nama seseram itu.t Fesy

Jika saya lihat elemen - elemen yang ada di bukit tersebut tidak menandakan adanya ciri, maupun bentuk tengkorak. Malah bukit itu bagi saya pribadi, punya lanskap yang menarik, kasihan juga bukit yang punya pemandangan secantik itu diberi nama tengkorak.

Padahal masih banyak nama - nama cantik nan ciamik yang bisa mewakili keindahan bukit tersebut. Tapi tak apa, toh tulisan ini bukan mau bahas tentang asal muasal nama bukit tengkorak atau bukit apalah itu namanya. Yang jelas bukan itu maksud saya !

Ok kembali ke sini, laptop. Seperti yang sudah saya ceritakan di awal, bahwasanya  pada tulisan ini saya akan menceritakan pengalaman saya, ketika menjadi bagian sebuah pergerakan inspiratif, anak muda Cipanas. Walaupun saya hanya jadi penonton saja, tapi tetap saya bangga.

Art Fest. Sebuah acara yang diprakarsai oleh komunitas - komunitas anak muda Cipanas. Disinilah tenpat berkumpul komunitas kreatif yang menjamur di sekitar daerah Cianjur hingga Cipanas. Mulai dari komunitas musik, seni teater, komunitas sosial peduli minat baca, dan masih banyak lagi.

Digelar untuk ketiga kalinya, pada tahun ini Art Fest Cipanas bertepatan dengan moment hari lingkungan hidup. Sehingga konsep acara pun dibuat sedemikian rupa. Menanam pohon, tersedianya camping ground, serta diskusi soal lingkungan menjadi sajian dalam acara ini. Tak ketinggalan penampilan teater hingga musik accoustic menjadi pelengkap acara.

Suasana yang tempat yang nyaman membuat acara ini berjalan santai. Dibuat dengan dana hasil kolektif panitia dan donasi pengunjung, membuat emosional diantara kami terjalin erat. Saling lempar tanya, dan canda terdengar dimana - mana. Intim sekali rasanya.

Acara diskusi lingkungan adalah bagian acara yang paling menyita perhatian saya. Entah kenapa akhir - akhir ini saya begitu tertarik dengan isu - isu lingkungan.

Sampai akhirnya dalam diskusi tersebut keluar sebuah kalimat yang membuat saya merenung sejenak. Begini kira - kira inti kalimatnya "Alam tidak butuh kita, tapi kita yang butuh alam".

Kalimat tersebut membawa saya kedalam dimensi pikiran yang berbeda. Alam memberikan kita semua yang kita perlukan, tetapi tidak dengan kita. Kita hanya terus meminta, bahkan dengan paksaan kepada alam. Kita " memperkosa alam" .

Tanpa ada tindakan pertanggung jawaban yang nyata, masalah ini akan semakin rumit. Bagi saya ketika masalah ini terus dibiarkan, maka hanya tinggal menunggu waktu. Waktu dimana alam ini rapuh, dan pada akhirnya kita akan menerima semua akibatnya.

Solusinya menurut saya adalah, sayangi alammu seperti kamu menyayangi dirimu sendiri. Dengan kita menyayangi alam, maka kita menyayangi diri kita sendiri. Sederhana dan biasa saja, tapi memang begitu adanya.

Tak perlu cara yang rumit untuk menjaga alam ini, cukup dengan cinta dan kasih, maka semua perlakuan itu akan muncul dengan sendirinya. Dasarnya adalah cinta.

Hingga malam menjelang, kabut mulai mengaburkan penglihatan. Udara lebih dingin, dan sialnya saya lupa bawa jaket. Untung saja di tengah - tengah tempat acara panitia menyediakan api unggun.

Sambil menghangatkan diri, saya dan kawan - kawan yang lain disuguhi alunan musik accoustic. Sungguh berbagai waktu dengan alam yang mengasyikan!

Related Articles

0 comments:

Post a Comment